July 23, 2012

SBY
Written By Voice Of Baptist Papua
By, K. Yudha Wirakusuma - Okezone

JAKARTA - President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) in his speech when launching the Journal of Strategic Review and Strategic Review Forum, are having trouble dealing with conflict in Papua.

Papua observers said Frans Ansanay, pastas were so out of a head of state.

"Actually this way, a head of state of Indonesia is not just deliver it. That suggests the government is not able to deal with Papua. Eksesnya will lead to strengthened alibi Papuans have been saying is not part of Indonesia, so naturally can not be taken care of, "Frank said while talking to Okezone, Wednesday (18/07/2012).

He added that the difficulty to reduce conflicts in the world of Paradise because of the absence of honest intentions of the government to build Papua.

"What is true in Papua? I think from Papua or West Irian in Homeland captured today, the government of Indonesia to Papua dishonest build the promised prosperity, "he said.

So, he said, the failure of the various regulations related to special autonomy in 2001 need to be evaluated.

"I megusulkan volume II establishment of special autonomy for Papua establish themselves with their own frame of mind," he explained.

"So the acceleration was released by the Papuans themselves, let it set itself, with a record of not asking for independence," he said.

Earlier, Yudhoyono admitted to date has not yet get the formula to reduce konlfik in Papua.

"We found a good solution to the conflict in Aceh, and communal conflict in Ambon and Poso. However, this formula does not fully apply to Papua, which require different types of solutions, "said Yudhoyono, yesterday Tuesday, July 17th.

SBY admitted to not stop to figure out the conflict that was happening. By understanding the conflict, he would be easily to make a decision.

"I'm always interested to learn more. Every detail no matter how small helps my decision. Each new fact helped me better judgment. The point is that different conflict requires a different solution, "he explained.

July 15, 2012

obama
As--Legenda musik reggae Bob Marley kini bergabung dengan Barack Obama dan Elvis Presley dalam kelompok pesohor yang namanya diabadikan untuk nama sejumlah spesies hewan.

Dalam kasus Bob Marley, nama musisi asal Jamaika itu diabadikan untuk spesies parasit bercangkang penghisap darah yang banyak menempel pada ikan-ikan di terumbu karang Karibia. Spesies parasit ini kini dikenal dengan nama Gnathia marleyi.

Mengapa nama Bob Marley yang dipilih? "Saya memberi nama spesies ini yang merupakan keajaiban alam dengan nama Bob Marley karena rasa hormat dan kekaguman saya terhadap karya-karyanya," kata Paul Sikkel, seorang pakar biologi kelautan dari Universitas Arkansas. "Selain itu spesies ini adalah keunikan Karibia seperti halnya Bob Marley," tambah Sikkel.

Gnathia marleyi muda biasanya bersembunyi di antara puing karang, spon laut dan ganggang. Mereka biasanya menyerang ikan yang nantinya akan mereka jadikan tempat tinggal. Parasit-parasit ini kemudian terus menerus makan hingga saat mereka mencapai taraf usia dewasa.
"Gnathia dewasa tidak makan sama sekali, namun mereka bisa bertahan hidup hingga tiga pekan hanya dari makanan terakhir mereka saat muda," papar Sikkel.
Penghisap darah

Terumbu karang Karibia menurut Sikkel sangat rentan penyakit. Dan Sikkel mengatakan timnya tengah mempelajari hubungan antara kesehatan terumbu karang dan populasi gnathiid atau parasit-parasit bercangkang penghisap darah.

Golongan gnathiid, seperti halnya Marleyi, adalah parasit eksternal yang banyak hidup di terumbu-terumbu karang. "Secara ekologi mereka sama dengan serangga penghisap darah di daratan atau nyamuk," tambah Sikkel.

Bob Marley yang meninggal dunia pada 1981 lalu, merupakan pelopor musik asal Jamaika yang dikenal sebagai musik reggae. Beberapa karyanya yang paling dikenal antara lain No Woman, No Cry dan Redemption Song.

Sementara Presiden Barack Obama dijadikan nama untuk sejenis lumut, dan Evis Presley diabadikan untuk sejenis lebah. Hasil penelitian Sikkel dan timnya seputar kehidupan Gnathia marleyi dalam jurnal Zootaxia. Penelitian ini didukung dan didanai Yayasan Sains Nasional.
More..

July 14, 2012

Merlu Australia Bob Carr
Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr mengatakan dia diam-diam bekerja sama dengan Indonesia dalam masalah hak asasi manusia di provinsi bermasalah Papua.
 
Sebuah media Indonesia scrum menunggu Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr, saat ia mengunjungi sebuah klinik obat di Yogyakarta.
 
Sebuah media Indonesia scrum menunggu Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr, saat ia mengunjungi sebuah klinik obat di Yogyakarta.

Masalah telah berkobar di wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir, dengan tentara yang dituduh membunuh seorang pemimpin separatis ketika mencoba untuk menangkapnya, dan akan mengamuk kekerasan di sebuah desa kecil.

Senator Carr, yang saat ini dalam kunjungan empat hari ke Indonesia, mengatakan standar hak asasi manusia akan lebih baik dipelihara jika sistem peradilan kuat.

"Sebuah proses pengadilan yang adil dan transparan ketika indonesian hukum dilanggar,

"Dan menteri luar negeri Indonesia menerima bahwa dalam pertemuan pertama kami kembali pada bulan Maret di hari pertama saya sebagai menteri luar negeri. Dan saya menyadari bahwa ketulusan dan Presiden," kata Senator Carr.

Ini adalah kunjungan pertama sang senator untuk negara strategis penting, dan dia bilang dia berencana membangun pada pekerjaan yang baik dilakukan oleh pemerintah sebelumnya.

Dia mengatakan ia ingin melayang hubungan luar tema konstan seperti penyelundupan manusia.

Ia menghabiskan kemarin memeriksa proyek-proyek yang telah diuntungkan dari uang bantuan Australia, dan mengatakan kunjungan ini adalah tentang bekerja pada sebuah hubungan penting dan menjaganya agar tetap rusak.

Bob Carr bertemu dengan timpalannya menteri Bahasa Indonesia pada hari Senin.

July 5, 2012

Legenda-Papua,--Mako Tabuni menjadi berita lagi. Dia ditembak polisi dalam upaya penangkapan, Kamis (14/6/2012), karena dianggap melakukan perlawanan.

Kapolda Papua Irjen Bigman L Tobing, seperti diberitakan TRIBUNnews.com, menjelaskan, Mako Tabuni tewas diterjang peluru aparat saat hendak diamankan anggota Tim Khusus Reskrim Polda Papua di simpang tiga pangkalan ojek, Perumnas 3 Waena, Jayapura, Provinsi Papua.

Menyusul tewasnya Mako Tabuni, sekelompok orang melakukan kekerasan. Empat orang korban luka. Mereka adalah Indra, Endi Karapa, Jabar Marzuki, dan Abdul Azis.

Siapakah Mako Tabuni? Belum banyak penjelasan mengenai pria berwajah Papua ini. Mako Tabuni tercatat sebagai Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

Tujuan komite ini jelas, memperjuangkan kemerdekaan Papua. Logo organisasi KNPB berlatar belakang merah, dengan gambar bintang dan Pulau Papua.
Mako Tabuni diberitakan website Central Democracy, sebuah lembaga demokrasi, HAM, dan kemerdekaan tertanggal tanggal 9 April 2012.

Banyak Berita lain terkait Mako Tabuni Versi Indo-Media

Di situ, Mako Tabuni --pria asal Wamena-- dikutip mengatakan: “Kami tidak pernah lupa akan sejarah bangsa Papua Barat, sehingga KNPB dibentuk sebagai media untuk memediasi dan menyuarakan aspirasi rakyat Papua Barat, dan menghidupkan kembali sejarah yang dulu pernah ada.”

Mako Tabuni menjelaskan, Komite Nasional Papua Barat atau KNPB didirikan sejak tahun 1961 silam oleh "tokoh-tokoh nasionalis Papua".
Selama ini, publik mengenai organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Papua adalah OPM atau Organisasi Papua Merdeka.

Mako Tabuni menjelaskan tentang KNPB di Lapangan Makam They Eluay, salah satu tokoh Papua yang tewas 10 November 2001. Makam itu terletak di Sentani.

Ribuan orang dilaporkan hadir ketika Mako Tabuni berbicara.
They adalah salah satu pemimpin Papua. Secara resmi ia Ketua Presidium Dewan Papua. Kematiannya yang misterius menimbulkan pertanyaan. Sampai sekarang.

Mako Tabuni menjelaskan, pada tahun 1961 KNPB sudah lahir dengan nama Komite Nasional Papua (KNP). Tujuannya, kata dia, memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
“Kami hanya mengganti nama KNP menjadi KNPB, namun cita-cita perjuangannya sama, yakni perjuangkan kemerdekaan Papua Barat,” ujarnya kepada wartawan.

Mako Tabuni meyakini, sesuai dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa daerah-daerah jajahan di seluruh dunia harus dibebaskan, dan dibiarkan membentukan negara dan pemerintahaan sendiri.

“Wujud nyata dari perjuangan tersebut, KNP melahirkan New Guinea Raad atau perwakilan Papua untuk perjuangkan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat,” ujarnya seperti dikutip website Central Democracy.

Untuk itu, kata Mako, saat ini KNPB hanya menghidupkan kembali lembaga yang dulu pernah ada tetapi mati karena adanya perjanjian New York Agreement, dan proses pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang dianggap tidak demokratis.

Sebelum Mako Tabuni tewas, Papua terus memanas. Muncul sejumlah kasus penembakan misterius. Korbannya, antara lain, warga negara Jerman, seorang tukang ojek, dan seorang PNS Kodam setempat, serta tentara. Seorang mahasiswa tewas dikeroyok.
Belum ada penjelasan, apakah Mako Tabuni dan kelompok berada di belakang berbagai kasus kekerasan itu.
Di Jakarta, hari Kamis ini, Kepala Bagian Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Pol Sutarman mengatakan Polri sudah memiliki data siapa saja yang terlibat kerusuhan di Papua.

Saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, ia mengatakan pihaknya akan pihaknya tengah melakukan penangkapan-penangkapan terhadap pelaku.

"Kita akan bersihkan seluruhnya. Seperti Aceh kemarin, kita turunkan tim, kelompok kita tangkap seperti di Aceh, sekarang kondusif," katanya.
Mengenai Mako Tabuni, Sutarman mengatakan Polri sudah menemukan kaitan Mako dengan sejumlah penyerangan dan pembunuhan di Papua.

Kekerasan di Papua belakangan ini bukan cuma di Jayapura, ibu kota Papua Barat. Rabu (13/6/2012) kemarin, 21 orang terluka terkena panah akibat bentrokan dua kelompok masyarakat di Kwamki Lama, Mimika.

Ikuti berita "Papua Memanas Versi Media Indoneseia" di sini 
Kasus-kasus Kekerasan di Papua

SEJAK 29 Mei-10 Juni 2012 terjadi tujuh kasus penembakan yang menewaskan warga sipil, aparat hingga turis asal Jerman bernama Pieter Dietmar Helmut (29/5), seorang pelajar SMU, Gilbert FM (4/6), dan sehari sesudahnya (5/6) anggota TNI, Pratu Doengki Kune.

Hari yang sama, jatuh korban warga sipil yaitu Iqbal Rivai serta Ardi Jayanto. Hari berikutnya, 6 Juni 2012, korbannya PNS Kodam Cenderawasih, Arwan Apuan, yang disusul penembakan terhadap Satpam Supermarket, Tri Sarono pada Minggu malam lalu (10/6).

Di Kampung Kulirik, Distrik Mulai, Kabupaten Puncak Jaya, seorang guru SD Inpres Dondobaga, Anton Arung Tambila juga ditembak oleh orang tak dikenal (OTK) pada 29/5 saat berada di warung kelontong.

July 2, 2012

 Ratusan demonstran memblokir jalan di depan PLTN Oi di Jepang Barat, untuk mencegah dihidupkannya lagi reaktor nomer 3.

Perdana Menteri Yoshihiko Noda menyetujui diaktifkannya lagi reaktor nomer 3 dan 4 di PLNT Oi dalam upaya menghindari kekurangan listrik yang diperkirakan akan dialami di musim panas ini.

Kedua reaktor merupakan yang pertama dihidupkan lagi sejak musibah nuklir Fukushima.

More>> Jepang hidupkan kembali fasilitas nuklir | ABC Radio Australia
Gedung Putih menyambut embargo Uni Eropa atas minyak Iran dan menyebutnya sebagai komponen penting respons internasional terhadap ambisi nuklir Teheran.
Langkah tersebut merupakan bagian dari desakan bersama negara-negara Barat agar Iran mau berkompromi.

Larangan impor minyak itu tidak saja melarang negara-negara Uni Eropa membeli minyak mentah atau produk petroleum dari Iran, melainkan juga menghentikan pengadaan dana atau pengasuransian kiriman demikian.

Tahun lalu 23 persen ekspor minyak Iran adalah ke Uni Eropa, terutama Yunani dan Italia.

Embargo Uni Eropa ini merupakan kabar sangat buruk bagi Teheran.

Larangan impor minyak oleh negara-negara Uni Eropa diputuskan sementara mulai berlaku langkah Amerika yang mengancam akan mengenakan sanksi keuangan terhadap setiap negara yang dipandang belum melakukan cukup upaya untuk mengurangi pembelian minyak mentah

More>>Amerika sambut embargo EU atas Iran | ABC Radio Australia

July 1, 2012

 Metrotvnews.com, Jayapura: Kasus penembakan oleh orang tak dikenal kembali terjadi di wilayah Papua. Seorang kepala desa di Sawiyatami, Wembi, Keerom, Jayapura, Ahad (1/7), tewas ditembak orang tak dikenal ketika pasukan TNI yang sedang berpatroli mendapat serangan dari orang tak dikenal.

Tewasnya kapal desa bernama Yohannes itu dibenarkan Pangliam Daerah Militer XVII Cendrawasih Mayor Jenderal TNI Mohamad Erwin Syafitri ketika dihubungi Metro TV melalui telepon, Ahad siang atau Ahad sore waktu Papua.

Menurut Pangdam, sejak pagi sudah disiagakan pasukan untuk mengantisipasi pengibaran bendera Bintang Kejora oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka di hari ulang tahun kelompok tersebut hari ini. Pada siang hari sepasukan tentara melakukan patroli.

Ketika melintas di wilayah Sawiyatami, tiba-tiba pasukan ditembaki orang tak dikenal. Namun tembakan hanya mengenai kaca dan atap mobil. Rupanya tembakan orang tak dikenal itu justru mengenai Yohannes, kepala desa setempat yang sedang berada di lokasi. Yohannes terkena tembakan di bagian kepala dan perut. Yohannes tewas di tempat.

Saat itupun terjadi tembak menembak antara pasukan TNI dan pelaku penembakan. Pasukan TNI berhasil memukul mundur dan mengejar kelompom penembak tersebut. Kelompok itu lari ke arah perbatasan Indonesia - Papua Nugini. Pasukan TNI pun menghentikan pengejaran. Saat ini dipastikan situasi sudah kondusif.

Pangdam menduga penembakan itu dilakukan kelompok OPM pimpinan Lambert Pekikir yang biasa beroperasi di wilayah perbatasan Papua Nugini - Kota Jayapura. Bahkan, menurut Pangdam, OPM pimpinan Lambert Pekikir ini pun sebelumnya mengimbau masyarakat perbatasan untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora. Untungnya, kata Pangdam, masyarakat tidak terhasut. Meski demikian diakui ada pengibaran bendera OPM itu di beberapa titik, termasuk di wilayah Dok 4.(DSY)

June 30, 2012

Barac Obama
Rakyat Amerika Serikat (AS) kini bersorak gembira setelah Mahkamah Agung mensahkan undang-undang kesehatan yang ingin digagalkan oleh Partai Republik, Kamis (28/6/2012).

Undang-Undang tentang Perlindungan Pasien dan Aturan Pelayanan Kesehatan Yang Terjangkau yang diusung pemerintahan Obama itu berhasil disahkan setelah selama hampir 2 tahun tertunda karena akan digagalkan oleh Partai Republik. Partai ini berpendapat undang-undang itu akan membuat AS bangkrut. Namun, Obama berpikiran sebaliknya.

UU Layanan Kesehatan itu merupakan pencapaian bersejarah dalam puluhan tahun terakhir. Ini merupakan undang-undang hak sipil yang penting di abad ini. Dengan undang-undang tersebut, 32 juta lebih warga yang tidak memiliki asuransi akan berhak mendapatkan layanan kesehatan.

Dengan undang-undang ini pula, perusahaan asuransi tidak lagi punya alasan untuk menolak pertanggungan biaya kesehatan kliennya. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan asuransi yang tidak menawarkan layanan kesehatan berkualitas untuk pekerja. Sebelumnya, perusahaan asuransi bisa semena-mena menolak klaim dengan alasan yang mengada-ngada, yang biasa disebut pre-existing medical condition.
More....

June 21, 2012

Mako Tabuni
Lulus SMA langsung merasakan sel penjara.

Pada tahun 1999, sesudah SMA di Wamena selesai, Mako pergi ke Jayapura. Ini kali pertama ia berhadapan langsung secara dekat dengan tentara. Trauma di masa kecil dengan tentara terulang kembali.

Mako ditangkap oleh anggota Kopassus di Pasar Lama Abepura, Jayapura. Ketika sore hari, ia duduk-duduk di Pasar Lama itu, didatangi oleh anggota Kopassus, dibawa ke Waena, Abepura, Jayapura.

Di markas militer itu, ia ditanya dan dinterogasi. Mako menurut saja, saat itu mengaku ia masih tidak mengerti tentang hukum. Ia sadar ketika didatangi tentara ada tanda bahaya yang mengancam dirinya.

"Saya ditanya, kamu anak Pak Matias Wenda? Dorang tangkap saya dan interogasi. Karena dari SD, SMP dan SMA saya sudah biasa melihat situasi itu saya jawab ya, saya benar anak Matias Wenda, walaupun bukan," kata Mako.

Mako dituduh sebagai anaknya Matias Wenda, panglima tertinggi OPM yang saat itu disebut-sebut oleh tentara sebagai pimpinan perjuangan kemerdekaan Papua.

"Karena waktu itu saya pergi ke dia (Matias Wenda), sesudah saya tamat SMA, ke perbatasan PNG (Papua New Guinea)," kata Mako.

Saat itu Mako pergi menemui Matias Wenda, yang dekat dengan kakaknya Amos Tabuni, untuk mengetahui sejarah makam dan kematian dari kakaknya itu.

Mako berujar sebagai anak Matias Wenda, karena sejak kecil, bahkan ketika masih ada di dalam kandungan, dirinya disebut sebagai anak TPN/OPM.

"Karena itu saya harus ketemu lihat dia. Lalu Pak Matias bilang kamu di sini saja. Ah, saya tidak mau di hutan. Saya harus belajar ke kota sekolah saja," kata Mako, mengungkap pertemuannya dengan Matias Wenda.

"Pak Matias itu Bapak punya Om," kata Mako lagi.

Akhirnya, Mako tak ditahan lama, ia kemudian dilepaskan dan dikenai wajib lapor. Mako pun dengan polosnya menceritakan ketidaktahuannya soal hukum, yang ia akui karena itu baru lulus SMA. Saat itu, yang ia mengerti nyawa dirinya telah terancam.

Ia pun taat datang ke markas militer itu untuk melaporkan keberadaanya. Bulan pertama, kedua, dan ketiga ia rajin datang. Namun sesudah bulan keempat ia tak datang melapor. "Saya lari ke Manado untuk kuliah."

Di Manado, Sulawesi Utara, ia memutuskan untuk belajar hukum, dengan spesialisasi Hukum Pidana di Universitas Kristen Indonesia Tomohon. Ia tidak ambil jurusan Hukum Internasional karena kendala dengan Bahasa Inggris.

Selain belajar hukum, di kampus itu ia mulai bergabung dengan aktivis mahasiswa Papua. Pada tahun 2006, masuk ke dalam organisasi pergerakan bernama Sayap Cenderawasih, kedudukan sebagai Dewan Penasehat Organisasi.

Ia juga dipercaya sebagai koordinator penyalur beasiswa oleh para mahasiswa dari Indonesia Tengah, yang berasal dari PT Freeport Indonesia.

Ia pun menghimpun data mahasiswa Papua di Sulawesi Utara dan diajukan ke LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) di Timika. Namun, usulan itu ditolak oleh direktur pendidikan LPMAK, alasannya beasiswa diprioritaskan bagi suku Amungme dan Kamoro.

Sesudah mengurus usulan beasiswa itu, ia tidak langsung pulang ke Manado namun bergabung dengan para pendulang emas yang ada di Tembagapura.

Ia menghimpun para pendulang emas untuk melakukan protes, yang berujung pada penangkapan dirinya oleh pasukan Brimob.

Mako ditangkap dan ditahan dengan tuduhan sebagai anggota TPN (Tentara Pembebasan Nasional) ahli survei lapangan (operasi).

"Saya ditahan di Polres Timika, Mimika pada tahun 2007. Saya dikenai pasal makar. Namun saya ditahan di Polresta sampai 7 bulan saja," kata Mako.

Ia bisa keluar dari tahanan karena punya kartu mahasiswa dan dapat jaminan dari keluarga di Timika. Saat itu BAP dirinya belum dilimpahkan ke pengadilan, Mako terbang ke Jayapura.

Di Jayapura inilah, Mako bertemu dengan kelompok aktivis yang punya daya juang semangat akan perjuangan rakyat papua. Ia bertemu dengan Buchtar Tabuni dan Victor Yeimo. Mereka duduk bersama membentuk sebuah organisasi Komite Nasional Papua Barat atau KNPB.

Aksi pertama KNPB pada 1 Desember 2008, mereka bikin mimbar bebas sekaligus peringatan hari kemerdekaan Papua Barat di lapangan Theys Eluay, Sentani, Jayapura.

Dua motor gerakan ini, Buchtar Tabuni dan Sepi Sambom ditangkap dan dijebloskan ke penjara.   

Pada 3 April 2009, Mako ditangkap bersama aktivis KNPB lainnya, Diaz Serapi dan Yance Mote, sesudah menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRP pada Maret 2009.

Mereka dituduh makar dan melakukan penghasutan. Demo damai itu menuntut: Pepera 1969, Bebaskan Tapol-Napol, Otsus gagal dan Referendum.

Sekitar Oktober 2009, Mako cs divonis hukuman 1 tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jayapura.

"Makarnya tidak terbukti, tapi terbukti penghasutan," kata Gustaf Kawer, penasihat hukum Mako cs.

Bagi Jaksa Penuntut Umum vonis hukuman itu tidak memuaskan, mereka mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, yang kemudian putusannya tetap sama vonis 1 tahun 6 bulan, lalu jaksa kembali banding lagi ke kasasi ke Mahkamah Agung.

"Sebelum putusan kasasi turun, tanggal 28 Januari 2010, masa tahanan habis. Jadi tidak sempat menjalani hukuman itu ful (penuh), bebas demi hukum. Waktu itu MA tidak keluarkan perpanjangan penahanan," kata Gustaf Kawer.

Mako tetap konsisten memperjuangkan kebenaran dan komitmen pada prinsip perjuangan yang sudah terasah semasa dia remaja, bahkan masa kanak-kanak.

Sekali pun ia harus menanggung risiko yang berbahaya. Ia tak berhenti menyuarakan ketidakdilan politik dan hak asasi manusia yang terjadi di Papua.

"Saya tidak takut, tidak mundur, karena saya melihat nasib rakyat saat ini ke depan itu sangat tidak jelas, maka kembali lagi walaupun itu risiko, dapat ditangkap, atau dapat ditembak, terus kembali mendorong aspirasi masyarakat melalui penentuan nasib sendiri, sampai detik ini," kata Mako.

"Sesudah keluar, beliau masih aktif menyuarakan itu, saya pribadi, saya katakan, ingatkan, pembebasan sekarang ini bebas demi hukum, bukan bebas murni. Kalau putusan pengadilan MA turun bisa dieksekusi," kata Gustaf Kawer.

"Saya ingatkan kalau putusan MA turun, sewaktu-waktu bisa ditahan, jadi sarankan orang lain saja yang tampil. Tapi kemauan dia tetap aktif," kata Gustaf lagi.

Di akhir wawancara saya dengan Mako, dua tahun lalu di Jakarta, saya bertanya berapa kali dapat tangkap?

"Kelihatannya sudah tiga kali, yang terakhir saya tidak tahu. Mungkin dapat ditembak hee…," kata Mako, sambil tertawa kecil.
Mako Tabuni
Dari kecil dikenal suka memberontak.

Kematian aktivis Komite Nasional Papua Barat atau KNPB, Mako Tabuni pada 14 Juni lalu menyentak Jakarta. Pasalnya, insiden penembakan Tabuni oleh aparat polisi hingga tewas itu memicu kerusuhan besar di Abepura, Papua.

Kekecewaan rakyat Papua kepada pemerintah pusat kian meluas dengan insiden Mako Tabuni. Hal itu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutus Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo dan jajaran pemerintah lainnya untuk meredam situasi dan mencari solusi atas persoalan Papua.

Sebenarnya apa yang memicu rentetan kekerasan di Papua dan siapa sebenarnya siapa Mako Tabuni? Seperti apa gerakan perlawanan masyarakat Papua atas ketimpangan sosial yang melanda warga asli Papua.

Berikut hasil wawancara Wakil Ketua KNPB Mako Tabuni, beberapa waktu lalu.

Mako Tabuni lahir di kampung Piramid, kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 1979. Sebuah kampung yang menjadi basis perlawanan rakyat Papua terhadap operasi dan pendudukan militer yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1977.

Sehingga, Mako menghabiskan masa kecilnya dengan cerita-cerita derita konflik keluarga Papua.

Semasa Sekolah Dasar (SD), Mako sering mendengarkan cerita dari para orang tua, termasuk orang tuanya sendiri, tentang perlawanan orang-orang Papua terhadap kekuatan militer Indonesia.

"Walaupun buta huruf tapi tahu kemanusiaan," kata Mako.

"Yang memimpin gejolak 1977 itu anak-anak tamatan SD semua, tapi mereka mengerti (arti) kebebasan itu," kata Mako Tabuni kepada saya, dalam sebuah wawancara di Jakarta. beberapa waktu lalu.

Mako kecil, tumbuh sebagai anak-anak yang hidup di daerah konflik. Ia secara langsung merasakan derita sebagai anak-anak Papua.

Ia mendapatkan cap dan stigma sebagai anak pemberontak. Setiap tanggal 12 atau 13 Agustus sampai 18 Agustus, ia menyaksikan bapaknya digiring dan ditahan di Polres Distrik Asologaima, Jaya Wijaya, Papua.

“Setiap tanggal 17 Agustus harus di tahanan karena ulahnya kakak laki-laki yang dianggap pemberontak. Jadi setiap 12 atau 13 Agustus Bapak saya di tahanan dan dibebaskan pada 18 Agustus," kata Mako.

Sejak Orde Baru, negara melalui militer memberlakukan hukuman itu bagi mereka yang ikut atau orang tuanya tersangkut dalam makar atau merongrong kekuasaan negara, seperti cap komunis di Jawa.

Karena masih kecil, Mako tak mengerti mengapa ayahnya mesti ditahan setiap menjelang tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga tidak mendapatkan jawaban tiap kali ia bertanya.

Hingga di suatu saat, di bulan Agustus, dimana Mako sudah duduk di kelas 5 SD, Mako pergi ke dalam sel penjara di Koramil Distrik Asologaima, kabupaten Jayawijaya, untuk bertemu dan mengantar makanan buat bapaknya.

"Bapak saya cerita, kenapa Bapak begini? Kenapa begini?,” kata Mako, terdiam beberapa saat, menarik nafas panjang dan berat, hingga keluar air mata dan terisak.

"Tidak apa-apa ya," katanya, sambil menahan isakan.

"Dia menjawab kamu jangan pernah menyalahkan kakak laki-laki. Karena dia beranggapan bahwa perjuangan kakak pertama saya itu walaupun dicap oleh negara sebagai pemberontak, tapi dia bilang sesuai harga diri suatu bangsa, sesuai hati nurani dan sesuai Injil yang diterima agama Kristen," kata Mako, kembali terisak.

"Itu dia yang pernah ada cerita. Karena dia berjuang bukan untuk atas nama pribadi dia, keluarga atau atas nama sukunya. Tapi dia melihat jauh lebih besar, untuk menyelamatkan orang-orang, umat Tuhan yang ada di Papua. Maka, saya pun tidak tahu, tidak tahu apa arti kemerdekaan itu. Tapi saya menghormati anak itu. Saya terima risiko, apa pun akibat dari anak itu biarlah saya yang terima," kata Mako, menirukan ucapan ayahnya saat di dalam penjara.

Pesan terakhir yang sangat menyentuh Mako, ketika Bapaknya menuturkan, "Jangan pernah salahkan, atau marah, atau benci, terhadap langkah yang ditempuh kakakmu karena dia orang benar, dekat dengan rakyat, sukunya, bangsanya."

Cerita pahit dan takut ketika masa kanak-kanak juga dia alami ketika kakak keduanya pulang kampung, yang waktu itu sedang sekolah di Jayapura. Mako menuturkan, “waktu itu tentara Indonesia mengurung honai adat, termasuk keluarga kami, dari jam 11 malam sampai jam 8 pagi. Begitu keluar sudah dikelilingi tentara dan orang-orang proNKRI, mereka bilang kakak kedua saya diantar kakak laki-laki pertama, yang dicap OPM. Nah, di situ saya melihat pertama kali kekerasan suatu negara Republik Indonesia."

"Dorang giring kakak laki-laki itu ke Koramil. Di sana dia dipukul, disiksa, diinterogasi. Lalu dikeluarkan karena dia punya kartu dan data perjalanan yang jelas," kata Mako lagi. 

Dua hal yang dialami dan dirasakan Mako semasa kecil melihat bapaknya ditahan adalah, pertama ketakutan dan kedua trauma kalau melihat tentara.

Pengalaman itu membuatnya ia menjadi remaja yang penuh pergumulan. Ketika duduk di bangku SMP, ia mengaku mulai memikirkan sesuatu yang dialaminya di masa kecilnya.

Cerita dan pengalaman pahit dari kekerasan dan hidup dengan suasana menakutkan mulai ia pertanyakan. Dan, sejak ia masuk ke SMP kelas 2 mulai berpikir dan bertindak.

"Nah mulai SMA saya mulai bersikap, di hadapan guru-guru saya melawan. Tindakan melawan itu sudah saya anggap hal biasa," kata Mako, mengenang ketika ia belajar di SMU Negeri 1 Asologaima, Jayawijaya.

June 12, 2012

Jayapura - Leader Free Papua Movement  (OPM)  Pekikir Lambert, based in Victoria Border Papua New Guinea (PNG) and Indonesia Papua did not claim responsibility for shooting a series of terror acts that occurred in Jayapura in the last two weeks.

'' We are not responsible in any shooting incident in Jayapura, and we did not know of those actions, even we are also confused who did it,'' said Lambert Pekikir OPM Revolutionary Command Indonesia-PNG border region, as confirmed by cell Tuesday, June 12th.To that end, he added, do not accuse the Government of Indonesia OPM as the perpetrators of a series of terror acts.

 '' Do not charge us, because we were not involved. OPM is also not always make the project the interests of civilian and military government of Indonesia,'' he said.In fact, he added, to stop the scapegoating of the group, has officially sent a letter to the government and the Indonesian military, that OPM was not responsible for the shooting of a series of terrorist acts. '' We write to Indonesia government and military, which stated no responsibility for the shooting range,'' he said.

Lamber Pekikir revealed, the company was preparing for the upcoming July 1st Anniversary of OPM. All organizations and political wing of the OPM is currently concentrating Anniversary OPM prepare, tai is definitely not to be connected with a series of shootings,'' he said.While a spokesman for the OPM Revolutionary Saul J Bomay also stressed that similar, that OPM was not responsible for terror acts ata shooting that occurred recently. 

'' Starting from the shooting of German citizens and residents who all happen in the city, we are not irresponsible,'' he said. He asked, the Indonesian police should immediately reveal who the true perpetrators of the shooting in Jayapura teros spreader, not just accusations. 

'' Do not just call OTK or OPM accused, but never could prove who the perpetrators of the shooting of a series of terror acts,'' he said.Saul J Bomay continue, if the government and the Indonesian authorities are not able to uncover a series of terror shootings should involve international institutions. '' If it was not able to reveal the apparatus Indonesia ya just international law,'' he explained
Source: Bintang Papua

June 8, 2012


Kepolisian Daerah Papua (Polda Papua) tidak dapat membuktikan keterlibatan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam berbagai insiden penembakan di tanah Papua. 

“Dalam penyelidikan Bucthar Tabuni Cs oleh tim penyidik Polda Papua, sama sekali tidak ditemukan bukti keterlibatannya dalam berbagai insiden penembakan.”

Hal ini disampaikan Patris Wenda, Wakil Ketua Devisi Militan Keamanan KNPB dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi suarapapua.com, Sabtu (9/6) siang ini. 

Menurut Patris, karena tidak terbukti keterlibatan Bucthar Cs, sehingga penyidik Polda Papua sengaja menjerat Bucthar Tabuni dengan tuduhan pengrusakan lapas kelas II A Abepura di tahun 2010 silam. 

Patris melihat, tuduhan tersebut mengada-ada dan tidak mendasar, sebab selama aksi demonstrasi KNPB di Papua tidak pernah ada aksi kekerasan.


Warga Kota Jayapura diminta ikut membantu aparat keamanan setempat dalam mengungkap sejumlah kasus penembakan yang terjadi belakangan ini di wilayah tersebut. 

Wakil Ketua DPRD Kota Jayapura, M Darwis Massi mengatakan jika ingin sejumlah kasus penembakan di wilayah itu cepat terungkap, warga setempat juga harus berperan aktif membantu aparat kepolisian dengan memberikan keterangan yang  baik dan jelas.

"Saya menilai dengan adanya bantuan warga dengan memberikan keterangan kepada polisi, maka saya pikir kasus penembakan ini bisa cepat terungkapa," kata Darwis di Jayapura, Sabtu (9/6). 
More..
Media Indonesia - Warga Diminta Bantu Aparat Ungkap Penembakan di Papua

June 6, 2012

Dunia benar-benar mengakui eksistensi pemimpin besar Papua, Benny Wenda dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua dari kolonialisme Indonesia.
Kali ini giliran wikipedia, sebuah ensiklopedia internasional yang memasukan tokoh kaliber dunia, Benny Wenda sebagai putra terbaik Papua yang satu-satunya tercatat dalam wikipedia.

Tanpa ada sedikitpun kelemahan yang yang sering difitnahkan oleh kolonial Indonesia, Benny Wenda secara meyakinkan diakui oleh wikipedia sebagai tokoh besar Papua.
Benny Wenda adalah seorang tokoh terkemuka di kancah internasional untuk gerakan kemerdekaan Papua Barat dan telah menjadi tamu khusus di Parlemen Inggris, PBB dan Parlemen Eropa sebagai wakil rakyat Papua
Papua Merdeka!!

Senator Richard Di Natale, Hijau juru bicara Papua Barat, mempertanyakan Senator Bob Carr tentang pertemuan terakhir dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, mencari informasi tentang apakah masalah Papua Barat dibesarkan di pertemuan ini.

Unordered List

Blog Archive

Blogger news

Blogger templates

Content left

About

Follow Us

Blogroll

Labels

Media And Lengendaris West Papua

About Me

My Photo
Voice Of Baptist Papua
Papua, Papua barat/Indonesia, Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua
View my complete profile

Followers

West Papua Media Alerts

Free West Papua News

Random Post

Conflik West Papua

Conflik West Papua
Political conflict in Indonesia, Indonesia failed to fulfill the mandate of democracy and reform, the People of Papua became targets and victims of human rights violations

Legendary Papuan tribe inhabiting the Pacific

Random Post

Featured Post 7

Your Comments

Featured Post 8

Popular Posts

Recent Posts

Turius Wenda - Find me on Bloggers.com

Text Widget